Skip to main content

TENANG?

6 desember 2016
Akrhirnya waktu yang ditunggu setelah 6 tahun berjalan datang juga. Antara menunggu sama ingin mundur sih, secara ada perasaan takut terbesit. Gimana gak takut, hal yang paling aku hindarin adalah tampil di depan umum. Tapi di hari itu aku diwajibkan tampil di depan 6 orang dosenku. Ya,, hari itu adalah hari aku kompre. Seminggu sebelum ujian aku memang udah mulai nyiapin mental baja kalau kalau ada berondong pertanyaan yang mulai menyerang dan gak bisa buat jawabnya. Aku mulai rajin sholat ntah itu karna ingin semuanya lancar atau pencitraan kepada Yang Maha Kuasa, yang jelas gak ada pertolongan lain selain meminta kepada Tuhan yang udah nyiptain aku. Maha dari segalanya yang bisa menolongku. Aku juga mulai sholat malam untuk lebih dekat kepada-Nya. Meminta sambil meneteskan air mata mohon agar dilancarkan ujianku.
Pagi.
Jam setengah tujuh udah berangkat dari rumah menuju kampus. Paling duluan sampai berdua temanku. Tapi kami keluar lagi karna ada yang harus difotocopy. Sesudahnya, kami mulai menunggu di depan ruangan kompre. Bersama dengan peserta lainnya yang semuanya adalah junior kami. Ya, kami berdua yang paling senior dan udah “kritis”. Aku peserta nomor urut dua.
Ketika sedang menunggu giliran, aku mulai memperhatikan sekelilingku. Adik-adik juniorku, dan  teman seangkatanku. Mereka semua cemas, mulai membahas skripsinya dengan teman yang sama pembahasannya. Ada juga yang bolak balik skripsi dan buku pegangan untuk dibaca. Temanku, dia juga sibuk dengan skripsinya. Aku sendiri bingung mau ngapain, aku juga coba baca skripsiku tapi yang mau dibaca itu itu aja, menurutku sendiri gak susah. Bukannya sombong tapi memang gak tau harus ngapain. Bisa dibiang aku yang paling santai disitu karna bukan sibuk membaca tapi aku Cuma sibuk memperhatikan mereka yang sedang sibuk.
Peserta pertama mulai dipanggil jam setengah 9. Ditengah tengah ujian dia keluar nyari buku peganggan dengan muka yang hampir nangis. Wah, aku pikir aku baru mulai deg-degan. Tapi tidak parah. Akhirnya, Jam 10an aku dipanggil ke ruangan.  Gak ada perasaan takut, Cuma agak nerfous karna memang aku gak suka presentasi. aku mulai baca “Bismillah” supaya lancar dan tidak ada salah kata yang keluar sehingga ada kesalahpahaman dengan dosen. Mulai disuruh baca Al-quran, trus baca presentasi power point lancar kemudian masuk sesi tanya jawab. Aku mulai deg-dengan. Dimulai dari pertanyaan dari ibuk S, beliau bertanya dengan lembut buat deg-degan aku hilang, pertanyaannya juga gak susah menurutku, tapi ada aja yg gak bisa aku jawab karna ya gitulah. Aku heran, kata orang-orang beliau itu kalai kompre termasuk “diwaspadai”. Tapi menurutku santai aja. Kemudian ibuk A, beliau juga menanyaiku dengan lemah lembut gak ada keras-kerasnya sedikitpun padahal banyak lampiran yang kurang aku cantumkan. Beliau Cuma mengeluh dan ngasih masukan. Gak sampai sejam aku udah selesai. Semua peserta bertanya, “kak, kok cepet?” memang sampai akhir, akulah peserta tercepat kompre. Yang lain pada bilang mungkin karna aku angkatan “tua”makanya dimudahin komprenya. Bisa jadi sih, tapi kenapa teman seangkatanku gak merasakan hal yang sama? Penguji kamu dosen yang sama, hanya satu dosen yang berbeda, tapi dia dapat diberondong pertanyaan terus-menerus dan keluarnya lama dalam keadaan menangis. Hah, aku gak tau harus bersyukur atau malah ntahlah. Aku Cuma ngerasain kompre aku saat itu Cuma main-main. Gak seperti yang dirasakan orang lain. Gak ada yang bisa aku kenang, karna semuanya flat.
Sesudah semuanya tampil, kami nunggu yudisium. Jam 5 sore baru dipanggil keruangan semuanya untuk yudisium pembacaan nilai dan penentuan apakah kami lulus atau tidak. Aku dapat nilai B, teman seangkatannku dapat C. Tapi lagi lagi gak ada perasaan wah, biasa aja bagiku. Gak senang gak sedih.
Setelah selesai, besoknya kami ngurus buat pendaftaran wisuda. Cuma ada 4 hari yang tersisa buat daftar wisuda. Temanku sangat berharap bisa tekejar wisuda periode satu tahun 2017 itu. Lagi-lagi aku tenang-tenang aja. Masuk syukur gak masuk yaudah yang penting udah lulus pikirku.
Hari keempat barulah kami bisa menyelesaikan semua berkas dan berhasil masuk penaftaran wisuda. temanku gak henti-hentinya bilang “senang , akhirnya udah lepas udah lega”. Aku gimana? U know lah, flat. Aku gak tau aku kenapa. Gak ada perasaan lega sedikitpun karna udah lepas dari dunia kampusku yang 6 tahun ini mengikatku. Ada perasaan takut malah.
Kamu tau? Mulai detik epas kompre, aku udah menyandang gelar dan akhirnya aku mulai “pengangguran”. Banyak yang aku takutkan, “apa aku bisa dapat kerja nantinya? Apa aku aku bisa kerja dengan “layak”? kerja dengan gaji yang besar? Bisa bangga dengan kerjaanku? Apa aku bisa cepat dapatin kerja itu? Apa aku harus menunggu lama? Apa aku bisa nikah? Dengan siapa aku nikah? Apa aku bisa dapat suami yang bisa bimbing aku menuju kebenaran? Bukan yang aku impikan tapi yang aku butuhkan. Apa setelah aku nikah aku bisa punya anak? Apa aku bisa menjadi seorang ibu yang baik? Apa aku bisa mandiri dan mulai menata hidupku sendiri? Banyak pertanyaan yang ada dikepalaku sekarang, bukan tenang aku lulus ni, tapi aku KHAWATIR, TAKUT. Kebanyakan perasaan takut dikarenakan karna pandangan orang lain. Apa aku bisa menundukkan pandangn orang lain terhadapku setelah ini, atau mereka akan menginjakku?
Orang tuaku mau aku jadi guru, sesuai dengan jurusan yang aku ambil. Tapi jelas aku gak suka tampil di depan umum. Aku gak suka ngajar, aku suka emosi, aku gak sabaran. Apa aku bisa jadi guru? Aku pesimis dengan hal itu. Jadi apa yang aku mau?? Gak tau. Aku mau nyoba kerja kantoran kayak orang-orang. Gak mau jadi guru juga gak mau jualan kayak di rumah ini. Tapi ada angan kecilku untuk buka usaha juga, aku ngumpulin komik bukan tanpa alasan. Aku mau buka tempat makan, tepat nongkrong buat semua umur yang harga makanan dan minuman yang terjangkau. Di situ komikku akan aku taruh dan memperbolehkan siapa saja buat baca. Baca di sana aja ya, gak dibawa pulang. Buat apa? Ya buat dibaca ajasih, biar pada suka baca, daripada mainin hape mulu.
Rangkumannya adalah.... intinya adalah.....

Aku BELUM TENANG!

Comments

Popular posts from this blog

Aktor Korea Kesukaan (Lee Min Ho)

Secara gak sengaja nonton serial drama korea CITY HUNTER di INDOSIAR. Eh kepincut sama aktor ini. Mulai cari tau siapa. Gak terlalu mendalami sih. Secara mata normal menyukainya karna cakeeeeeppp banget. Mana di drama ini perannya cool abis. buat penasaran. Jadinya langsung beli kasetnya walaupun bajakan. Nonton deh seharian di kamar sampai bela belain tidur jam 3 pagi :p hehe nyari tau tentang Lee Min Ho, kabarnya sih dia seorang Atheis alias gak berTuhan. fiuh dengernya sih agak ILFILL ya. tapi namanya cuma fans biasa sih jadi akunya juga biasa aja. Urusan dia itulah. Semoga aja ntar dia nya bisa jadi Mualaf (hehe ngareppp :p ) Lee Min Ho adalah model dan aktor asal Korea Selatan yang lahir di Seoul pada 22 Juni 1987 , Lee Min Ho memulai debut perdananya di Serial drama Nonstop 5 sebagai Cameo di tahun 2004 , Sebelum kejayaannya Lee Min Ho bahkan berperan sebagai Pelayan restoran di Serial Drama Love Hymn pada Tahun 2005. Ketenaran Lee Min Ho memuncak K...

ALASAN

Mungkin inilah syndrom lebay dari seorang anak manusia yang gak punya siapa siapa buat berbagi. Setelah kehilangan BB , aku merasa separuh hidup aku hilang. Aku gak bisa berekspresi alias buat PM aneh aneh di BBM ku. Cuma itu yang bisa aku andalkan, ketika aku sedang kesal, marah, sedih, jengkel aku cuma bisa menuliskannya di sana. Cerita cuma sekedar pengeluaran isi hati yang gak berarti apa apa. Aku lebih memilih berteriak di PM , atau mengeluarkan kata kata kotor di FB dan TWITTER . Sebenarnya hidup aku gak sendirian, tapi selalu akulah yang menyendiri untuk bersembunyi dari dunia yang mengajakku bermain. Ingin sekali ku punya pacar, tapi lagi lagi hati ini menolak untuk bergerak. Aku takut aku buat mereka yang datang nanti merasa aku gak butuh mereka, sebenarnya sangat butuh, tapi aku terlalu takut untuk berbagi. Maksudnya berbagi informasi ke orang lain. Khususnya orang tuaku. Lagi lagi ketakutan akan ditolak merasuk lagi, padahal aku tau itu TIDAK AKAN TERJADI . Ketika a...

wasiat

Ketika hidupku sudah berakhir. Ketika aku harus pergi duluan meninggalkan dunia. Ketika nafas sudah tak lagi berhembus dari hidungku. Ketika mama masih bisa memelukku dan menciumku di akhir hidupku. Aku ingin sekali ginjal ini bisa dipakai oleh mamaku. Agar aku bisa terus menemani mama sampai akhir hidupnya. Membuatnya sedikit bernafas lega dari jarum suntik yang harus menusuk tangannya setiap dua hari sekali. Dan ketika itu juga aku ingin sekali organ tubuhku yang lain bisa di sumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Agar aku bisa sedikit bernilai hingga nyawa ditarik dari tubuh ini :')